Loading...

Rabu, 16 November 2011

pemerolehan bahasa pertama

PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Maha Besar Allah yang telah menciptakan kita sebagai makhluk yang paling sempurna. Sebagai makhluk yang sempurna, kesempurnaan kita telah ada sejak kita berada di dalam kandungan. Allah memfasilitasi kita dengan otak dan kemampuannya untuk mengatasi suatu masalah. Dengan kemampuan itulah, kita bisa sejak kecil pula mulai belajar banyak dan belajar memahami kata-kata.
Pemerolehan kata-kata atau bahasa telah terjadi ketika kita masih kanak-kanak. Pemerolehan bahasa ini bersifat alamiah dan naluri. Yang menjadi bahasa pertama, yaitu bahasa ibu. Bahasa ibu ini bukanlah bahasa yang rumit sehingga pada masa kanak-kanak inilah yang akan mempengaruhi perkembangan bahasa pada masa-masa sesudahnya.

1.2 Masalah
Masalah dalam makalah ini adalah “Apa sajakah tahapan dalam pemerolehan bahasa dan bagaimana seseorang memeroleh bahasa yang ditinjau dari 3 hipotesis, yaitu hipotesis nurani, hipotesis tabula rasa, dan hipotesis kesemestaan kognitif ?”

1.3 Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan tahapan dalam pemerolehan bahasa dan bagaimana seseorang memperoleh bahasa. Selain itu sebagai bahan presentasi pada mata kuliah Pemerolehan Bahasa, Prof. Dr.Hj. Ratu Wardarita,M.Pd. pada semester I Program Pascasarjana Universitas PGRI Palembang.







BAB II
PEMBAHASAN



Pemerolehan bahasa atau akusisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak seseorang kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dari pembelajaran bahasa (language learning).
Pemerolehan bahasa dapat diartikan sebagai periode seorang individu memperoleh bahasa atau kosakata baru. Pemerolehan bahasa sangat banyak ditentukan oleh interaksi rumit antar aspek-aspek kematangan biologis, kognitif, dan social. Slobin (dalam Iskandarwassid,2009:84) mengemukakan bahwa setiap pendekatan modern terhadap pemerolehan bahasa akan menghadapi kenyataan bahwa bahasa dibangun sejak semula oleh anak, memanfaatkan kapasitas bawaan sejak lahir yang beraneka ragam dalam interaksinya dengan pengalaman-pengalaman fisik dan sosial.
Tidak ada makhluk lain yang mempunyai sesuatu seperti kemampuan-kemampuan komunikatif kita sebagai insan manusia. Hipotesis ini ditunjang oleh kenyataan bahwa anak-anak memperlihatkan suatu keseragaman dalam perkembangan linguistik mereka, yang melalui sejumlah tahap pada usia-usia yang dapat diramalkan.

2.1 Tahapan-Tahapan Pemerolehan Bahasa
Sebelum kita membahas tentang hipotesis dalam pemerolehan bahasa, sebaiknya kita tahu urutan-urutan pemerolehan bahasa oleh Mackey (dalam Iskandarwassid.2009:85) :


Umur 3 bulan
Anak mulai mengenal suara manusia, ingatan yang sederhana, tapi belum tampak. Segala sesuatu masih terkait dengan apa yang dilihatnya.
Umur 6 bulan
Anak sudah mulai bisa membedakan antara nada yang “halus” dan “kasar”. Dia mulai membuat vokal seperti “aĔĔ.aĔ..aĔĔaĔĔ.”
Umur 9 bulan
Anak mulai berinteraksi dengan isyarat. Dia mulai mengucapkan bermacam-macam suara dan tidak jarang kita bisa mendengarnya sebagai suara yang aneh.
Umur 12 bulan
Anak mulai membuat reaksi terhadap perintah. Dia gemar mengeluarkan suara-suara dan bisa diamati, adanya beberapa kata tertentu yang diucapkannya untuk mendapatkan sesuatu.
Umur 18 bulan
Anak mulai mengikuti petunjuk. Kosakatanya sudah mencapai sekitar 20.
Umur 2-3 tahun
Anak sudah bisa memahami pertanyaan dan perintah sederhana. Kosakatanya sedah mencapai beberapa ratus. Anak sudah bisa mengutarakan isi hatinya dengan kalimat sederhana.
Umur 4-5 tahun
Pemahaman anak makin mantap walaupun masih sering bingung dalam hal-hal yang menyangkut waktu. Anak mulai belajar berhitung dan kalimat-kalimat yang agak rumit mulai digunakan.
Umur 6-8 tahun
Tidak ada kesukaran untuk memahami kalimat yang biasa dipakai orang dewasa sehari-hari. Anak-anak mulai belajar membaca, yang akhirnya menambah pembendaharaan kata.
                Berbeda halnya dengan Tarigan (1988:14), perkembangan pemerolehan bahasa dibagi atas 3 bagian, yaitu perkembangan prasekolah, ujar kombinatori, dan perkembangan masa sekolah.
Perkembangan prasekolah
1. Tahap pralinguistik
Anak manusia secara pembawaan lahir “diperlengkapi” buat interaksi social pada umumnya dan buat bahasa pada khususnya. (dalam Iskandarwassid). Terbukti bayi lebih menyukai  wajah manusia atau gambarnya, kepada objek nyata aau gambarnya.Pada usia 2 bulan, anak memberi respon yang berbeda-beda terhadap orang dan objek.

2. Tahap Satu Kata
Anak mampu mengekspresikan begitu banyak dengan kata-kata yang begitu sedikit.
3. Ujaran Kombinatori Permulaan
Ujaran kombinasi anak berkembang dari suatu system yang kebanyakan merupakan gabungan dua atau tiga kata yang tidak berinfleksi, butir-butir yang berisi (nomina dan verba).

Perkembangan Ujaran Kombinatori
Perkembangan ini dibagi menjadi 3, yaitu peerkembangan negative (penyangkalan; menggunakan kata ‘tidak/jangan’ di depan kalimat), perkembangan interogatif (pertanyaan), perkembangan penggabungan kalimat, dan perkembangan sistem bunyi.

Perkembangan Masa Sekolah
Perkembangan ini meliputi perkembangan struktur bahasa, pemakaian bahasa, dan kesadaran metalinguistik (pertumbuhan kemampuan untuk memikirkan, mempertimbangkan, dan berbicara mengenai bahasa sebagai sandi atau kode formal).

Berikut tahapan perkembangan bahasa anak-anak menurut Jean Piaget (dalam Tarigan.1988:35)
Usia
Tahap Perkembangan Bahasa
0.0-0.5
Tahap meraban (pralinguistik) pertama
0.5-1.0
Tahap meraban (pralinguistik) kedua : kata nonsens
1.0-2.0
Tahap linguistik I : holofraksis; kalimat satu kata
2.0-3.0
Tahap linguistik II : kalimat dua kata
3.0-4.0
Tahap linguistik III: pengembangan tata bahasa
4.0-5.0
Tahap linguistik IV : tata bahasa pradewasa
5.0-
Tahap V : kompetensi penuh

Tahap-Tahap Pemerolehan Bahasa Anak Secara Linguistik
Schaerlaekens dalam Mar’at.2005 (dalam Yanris) membagi periode perkembangan bahasa pada anak sebagai berikut.
1. Periode Pralingual
Umumnya dialami anak pada usia 0-1 tahun, anak belum mengucapkan bahasa hanya mengeluarkan bunyi-bunyi yang merupakan reaksi terhadap situasi tertentu.
a. Tahap mendekut (cooing)
Anak mengeluarkan bunyi yang mirip vokal atau konsonan (/ a /).
b. Tahap berceloteh (babbling)
Anak mengeluarkan gabungan mirip vokal dan konsonan (/ p /, / b /, / m /).
2. Periode Lingual
Umumnya dialami anak pada usia 1-2,5 tahun, anak mulai mengucapkan kata-kata.
a. Tahap ujaran holofrastik
Anak mampu memproduksi satu kata yang dapat menyatakan lebih dari satu maksud.
b. Tahap ujaran telegrafik
Anak mampu memproduksi dua kata sebagai pernyataan suatu maksud.
c. Tahap lebih dari dua kata
Anak mulai memproduksi lebih dari dua kata dan menunjukkan perkembangan morfologis. Komunikasinya pun tidak lagi bersifat egosentris.
3. Periode Diferensiasi
Umumnya dialami anak pada usia 2,5-5 tahun, anak dianggap telah menguasai bahasa ibu dengan penguasaan tata bahasa pokok. Fungsi bahasa sebagai alat komunikasi mulai berjalan baik. Anak juga mulai mampu mengkomunikasikan persepsi dan pengalamannya kepada orang lain.

2.2 Pemerolehan Bahasa : Beberapa Hipotesis
Ada dua proses yang terjadi ketika seorang kanak-kanak sedang memperoleh bahasa pertamanya, yaitu proses kompetensi dan proses performansi. Kedua proses ini merupakan dua proses yang berlainan. Kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa yang berlangsung secara tidak disadari. Proses kompetensi ini menjadi syarat untuk terjadinya proses performansi yang terdiri dari dua proses, yaitu proses pemahaman dan proses penerbitan atau proses menghasilkan kalimat-kalimat. Proses pemahaman melibatkan kemampuan atau kepandaian mengamati atau memampuan mempersepsi kalimat-kalimat yang didengar. Penerbitan melibatkan kemampuan mengeluarkan atau menerbitkan kalimat-kalimat sendiri. Kedua jenis proses kompetensi ini apabila telah dikuasai kanak-kanak akan menjadi kemampuan linguistik kanak-kanak itu. Jadi, kemampuan linguistik terdiri dari kemampuan memahami dan kemampuan menerbitkan kalimat-kalimat baru yang dalam  linguistic generatif disebut perlakuan, atau pelaksanaan bahasa, atau performansi.
Sejalan dengan teori Chomsky (dalam Chaer.2009: 168), kompetensi ini mencakup tiga buah komponen tata bahasa, yaitu komponen sintaksis, komponen semantik, dan komponen fonologi ke dalam pemerolehan sintaksis dan semantik termasuk juga pemerolehan leksikon atau kosakata.

Beberapa teori atau hipotesis yang berkaitan dengan masalah pemerolehan bahasa :
1. Hipotesis Nurani (The Innateness Hypothesis)
Hipotesis nurani lahir dari beberapa pengamatan yang dilakukan para pakar terhadap pemerolehan bahasa kanak-kanak (dalam Chaer.2009). Di antara hasil pengamatan itu adalah sebagai berikut.
1.       Semua kanak-kanak yang normal akan memperoleh bahasa ibunya asal ‘diperkenalkan’ pada bahasa ibunya itu. Maksudnya, dia tidak diasingkan dari kehidupan ibunya (keluarganya).
2.       Pemerolehan bahasa tidak ada hubungannya dengan kecerdasan kanak-kanak. Artinya baik anak yang cerdas maupun anak yang tidak cerdas akan memperoleh bahasa itu.
3.       Kalimat-kalimat yang didengar kanak-kanak seringkali tidak gramatikal, tidak lengkap, dan jumlahnya sedikit.
4.       Bahasa yang tidak diajarkan kepada makhluk lain; hanya manusia yang dapat berbahasa.
5.       Proses perolehan bahasa oleh kanak-kanak dimana pun sesuai dengan jadual yang erat kaitannya dengan proses pematangan jiwa kanak-kanak.
6.       Struktur bahasa sangat rumit, kompleks, dan bersifat universal, namun dapat dikuasai kanak-kanak dalam waktu yang relatif singkat, yaitu dalam waktu antara tiga tau empat tahun saja.
Mengenai hipotesis ini perlu dibedakan  adanya dua macam hipotesis nurani, yaitu hipotesis nurani bahasa dan hipotesis nurani mekanisme. Hipotesis nurani bahasa merupakan satu asumsi yang menyatakan bahwa sebagian atau semua bagian dari bahasa tidaklah dipelajari atau diperoleh tetapi ditentukan oleh fitur-fitur nurani yang khusus dari organisasi manusia.
Hipotesis nurani mekanisme menyatakan bahwa proses pemerolehan bahasa oleh manusia ditentukan oleh perkembangan kognitif umum atau mekanisme nurani umum yang berinteraksi dengan pengalaman.
Mengenai hipotesis nurani bahasa,Chomsky dan Miller (dalam Chaer.2009) mengatakan adanya alat khusus yang dimiliki setiap kanak-kanak sejak lahir untuk dapat berbahasa. Alat itu dinamakannya language acquisition device (LAD), yang berfungsi untuk memungkinkan seorang kanak-kanak memperoleh bahasa ibunya. Cara kerja LAD dapat dijelaskan sebagai berikut: apabila sejumlah ucapan yang cukup memadai dari suatu bahasa (bahasa apa saja : Sunda, Arab, Cina, dan sebagainya) ‘diberikan’ kepada LAD teori semantik generatif.
Yang penting untuk dikaji bukan hanya ucapan-ucapan saja melainkan juga pesan, amanat, atau konsep yang terkandung dalam ucapan-ucapan itu (Campbell,1979). Tokoh utama dalam pendekatan ini adalah Lois Bloom (dalam Chaer.2009) mengatakan bahwa ucapan kanak-kanak mempunyai banyak penafsiran; dan orang dewasa (terutama ibu si kanak-kanak) pada umumnya dapat menafsirkan ucapan kanak-kanak dengan tepat meskipun diucapkan dengan sebuah kata. Misalnya, kanak-kanak mengucapkan kata ‘mimi’, maka orang dewasa menafsirkan ‘Saya mau minum’, inilah yang disebut holofrasis.
Ucapan holofrasis ini menjadi bukti akan wujudnya LAD bentuk baru sebagai bagian dari versi hipotesis nurani yang menekankan pada komponen semantik. Dalam kaitan ini Mc. Neil (dalam Chaer.2009) menyatakan bahwa struktur awal bahasa ini adalah stuktur awal bahasa kanak-kanak di seluruh dunia adalah sama, meskipun budaya dan bahasa mereka berbeda.
Ucapan holofraksis kanak-kanak ini merupan bukti yang sugestif bahwa sebenarnya pada tahap ucapan satu kata ini kanak-kanak telah mampu menyampaikan makna komunikasi dengan hubungan-hubungan tata bahasa dasar. Bowerman (1973) mengumpulkan data-data ucapan holofraksis dari Finlandia, Amerika, dan Samoa. Hasilnya menunjukkan bahwa ucapan awal kanak-kanak itu dapat diuraikan berdasarkan tata bahasa dasar (struktur dalam), tanpa transformasi.

2. Hipotesis Tabularasa
Tabularasa secara harfiah berarti ‘kertas kosong’, dalam arti belum diisi apa-apa. Hipotesis tabularasa ini menyatakan bahwa otak pada waktu dilahirkan seperti kertas kosong, yang nantinya akan ditulis atau diisi dengan pengalaman-pengalaman. Hipotesis ini pada mulanya dikemukakan oleh John Locke seorang tokoh empirisme lalu disebarluaskan oleh John Watson (psikologi behaviorime).
Dalam hal ini, menurut hipotesis tabularasa, semua pengetahuan-dalam-bahasa manusia yang tampak dalam perilaku berbahasa adalah hasil dari integrasi peristiwa-peristiwa linguistik yang dialami dan diamati oleh manusia.Sejalan dengan hipotesis ini, behaviorisme menganggap bahwa pengetahuan linguistik terdiri hanya dari rangkaian hubungan-hubungan yang dibentuk dengan cara pembelajaran S – R (Stimulus – Respon). Cara pembelajaran S - R yang terkemuka adalah pelaziman klasik, pelaziman operan, dan mediasi atau penengah yang telah dimodifikasi menjadi teori-teori pembelajaran bahasa.
Teori behaviorisme menyoroti aspek perilaku kebahasaan yang dapat diamati langsung dan hubungan antara rangsangan (stimulus) dan reaksi (respons). Perilaku bahasa yang efektif adalah membuat reaksi yang tepat terhadap rangsangan. Reaksi ini akan menjadi suatu kebiasaan jika reaksi tersebut dibenarkan. Dengan demikian, anak belajar bahasa pertamanya.
Sebagai contoh, seorang anak mengucapkan bilangkali untuk barangkali. Sudah pasti si anak akan dikritik oleh ibunya atau siapa saja yang mendengar kata tersebut. Apabila suatu ketika si anak mengucapkan barangkali dengan tepat, dia tidak mendapat kritikan karena pengucapannya sudah benar. Situasi seperti inilah yang dinamakan membuat reaksi yang tepat terhadap rangsangan dan merupakan hal yang pokok bagi pemerolehan bahasa pertama.
B.F. Skinner adalah tokoh aliran behaviorisme. Dia menulis buku Verbal Behavior,1957 (dalam Safriandi.2009) yang digunakan sebagai rujukan bagi pengikut aliran ini. Menurut aliran ini, belajar merupakan hasil faktor eksternal yang dikenakan kepada suatu organisme. Menurut Skinner, perilaku kebahasaan sama dengan perilaku yang lain, dikontrol oleh konsekuensinya. Apabila suatu usaha menyenangkan, perilaku itu akan terus dikerjakan. Sebaliknya, apabila tidak menguntungkan, perilaku itu akan ditinggalkan. Singkatnya, apabila ada reinforcement yang cocok, perilaku akan berubah dan inilah yang disebut belajar.
Namun demikian, banyak kritikan terhadap aliran ini. Chomsky mengatakan bahwa teori yang berlandaskan conditioning dan reinforcement tidak bisa menjelaskan kalimat-kalimat baru yang diucapkan untuk pertama kali dan inilah yang kita kerjakan tiap hari. Bower dan Hilgard juga menentang aliran ini dengan mengatakan bahwa penelitian mutakhir tidak mendukung aliran ini.
Teori pembelajaran bahasa pelaziman operan menyatakan bahwa perilaku berbahasa seseorang dibentuk oleh serentetan ganjaran yang beragam-ragam yang muncul di sekitar orang itu. Seorang kanak-kanak yang sedang memperoleh sistem bunyi bahasa ibunya, pada mulanya akan mengucapkan semua bunyi yang ada pada semua bahasa yang ada di dunia ini pada tahap berceloteh (babbling period). Orang tua si bayi hanya ‘memberikan’ bunyi-bunyi yang ada dalam bahasa ibunya saja, maka si bayi dilazimkan untuk meniru bunyi-bunyi dari bahasa ibunya saja. Jika tiruannya itu betul atau mendekati ucapan orang tuanya, maka ia mendapat ‘hadiah’ dari ibunya berupa senyuman, ciuman, tawa, dan lain sebagainya. Bisa dikatakan bahasa kanak-kanak berkembang setahap demi setahap, mulai dari bunyi, kata, frase, dan kalimat. Menurut teori behaviorisme bahasa adalah sekumpulan tabiat-tabiat atau perilaku-perilaku.
Teori behaviorisme ini ditentang oleh kaum teori generatif transformasi karena tidak mampu menerangkan proses pemerolehan bahasa (Simanjuntak,1987). Kritik dari pakar teori generatif transformasi, terutama dari Chomsky (1959), membuat Jenkin (1964,1965) melontarkan penjelasan mengenai kreativitas bahasa berdasarkan kerangka behaviorisme. Jenkin memperkenalkan teori mediasi (penengah) yang disebut rantaian respons (response chaining). Teori ini didasarkan pada prinsip mediasi yang diperkenalkan oleh Osgood. Tampak jelas bahwa faktor penengah dimainkan oleh otak berperan penting dalam proses pembelajaran ‘rantaian respon’ itu.
Menurut prinsip mediasi, jika seseorang telah mengenal hubungan antara meja dan kursi, dan hubungan antara meja dan lantai, maka mengetahui hubungan antara kursi dan lantai akan jauh lebih mudah.
Seseorang dapat mengeluarkan kalimat apabila orang lain mengeluarkan stimulus. Menurut Skinner (1957) berbicara merupakan satu respon operan yang dilazimkan kepada suatu stimulus dari dalam atau luar. Untuk menjelaskan hal ini, Skinner memperkenalkan sekumpulan kategori respons bahasa yang hampir serupa fungsinya dengan ucapan, yaitu mands, tacts, echoics, textuals, dan intraverbal operant.

a. Mand
Satu mand adalah satu operan bahasa di bawah pengaruh stimulus yang bersifat menyingkirkan, merampas, dan menghabiskan. Di dalam tata bahasa mands ini sama dengan kalimat imperaktif. Mands muncul sebagai kalimat imperaktif, permohonan, rayuan, hanya apabila penutur ingin mendapatkan sesuatu. Misalnya, kanak-kanak mengucap kata ‘susu’, hal ini terjadi karena ada rasa haus atau lapar, anak tahu bahwa jika diucapkan kata itu, orang tua langsung memberikannya (ganjaran). Mands memerlukan satu interaksi khusus antara keadaan dulu yang serupa dan dialami, respons bahasa, perilaku orang yang mengukuhkan, dan jenis pengukuhan.
b. Tacts
Tacts adalah benda atau peristiwa konkret yang muncul sebagai akibat adanya stimulus. I dalam tata bahasa tacts disamakan dengan menamai atau menyebut nama suatu benda atau peristiwa.

c. Echoics
Echoics adalah suatu perilaku yang dipengaruhi oleh respon orang lain sebagai stimulus dan kita meniru ucapan itu. Misalkan, seseorang mengucapkan mobil, maka kita akan merespon mengucapkan mobil.
d. Tekstual
Tekstual adalah perilaku berbahasa yang diatur oleh stimulus yang tertulis sedemikian rupa sehingga bentuk perilaku itu mempunyai korelasi dengan bahasa yang tertulis itu. Korelasi yang dimaksud adalah hubungan semantik antara sistem penulisan (ejaan) suatu bahasa dengan respon ucapan apabila membacanya secara langsung. Jadi, apabila kita melihat sebagai stimulusnya kita memberi respons [kuciŋ].
e. Intraverbal Operant
Intraverbal operan adalah operan berbahasa yang diatur oleh perilaku berbahasa terdahulu dilakukan atau dialami oleh penutur. Umpamanya sebuah kata dituliskan sebagai stimulus, maka kata lain yang ada hubungannya dengan kata itu akan diucapkan sebagai respon. Kata meja, misalnya akan membangkitkan kata kursi. Begitu juga kata terima kasih sebagai stimulus akan membangkitkan kata kembali sebagai responnya.

3. Hipotesis Kesemestaan Kognitif
Dalam kognitifisme hipotesis kesemestaan kognitif yang diperkenankan oleh Piaget. Menurut teori yang didasarkan pada kesemestaan kognitif, bahasa diperoleh berdasarkan struktur-struktur kognitif deriamotor. Struktur itu diperoleh kanak-kanak melalui interaksi dengan benda-benda atau orang-orang di sekitarnya. Urutan pemerolehan ini secara garis besar adalah sebagai berikut :
1. Antara 0 sampai 1,5 tahun (0:0-1:6) kanak-kanak mengembangkan pola-pola aksi dengan cara bereaksi terhadap alam sekitarnya. Pola-pola inilah yang kemudian diatur menjadi struktur-struktur akal (mental). Berdasarkan struktur-struktur akal ini kanak-kanak mulai membangun satu dunia benda-benda yang kekal, yang disebut kekekalan lazim. Maksudnya kanak-kanak mulai sadar bahwa meskipun benda-benda yang pernah diamatinya atau disentuhnya hilang dari pandangannya; namun tidak berarti benda-benda itu tidak ada lagi di dunia ini.
2. Setelah struktur aksi dinuranikan, kanak-kanak memasuki tahap representasi kecerdasan, yang terjadi antara 2-7 tahun. Pada tahap ini kanak-kanak telah mampu membentuk representasi simbolik benda-benda seperti permainan simbolik, peniruan, bayangan mental, gambar-gambar, dll.
3. Setelah tahap representasi kecerdasan, dengan presentasi simboliknya, bahasa kanak-kanak mulai berkembang dengan mendapatkan nilai-nilai social. Struktur linguistik mulai dibentuk berdasarkan bentuk kognitif umum yang telah dibentuk ketika berusia kurang lebih dua tahun.
Menurut Piaget (1955) ucapan holofraksis pertama selalu menyampaikan pola-pola yang pada umumnya mengacu kepada kanak-kanak itu sendiri. Misalkan, seorang kanak-kanak usia 1,5 tahun mengucapkan kata ‘Panana’ (grand papa) jika dia menginginkan seseorang melakukan sesuatu untuk dirinya seperti yang biasa dia lakukan kakeknya.
Berdasarkan pandangan Piaget, Sinclair-de Zwart (1973) mencoba merumuskan tahap-tahap pemerolehan bahasa kanak-kanak sebagai berikut :
Pertama, kanak-kanak memilih satu gabungan bunyi pendek dari bunyi-bunyi yang didengarnya untuk menyampaikan satu pola aksi.
Kedua, jika gabungan bunyi-bunyi pendek ini dipahami, maka kanak-kanak itu akan memakai seri bunyi yang sama, tetapi dengan bentuk fonetik yang lebih dekat dengan fonetik orang dewasa untuk menyampaikan pola-pola aksi yang sama, atau apabila pola aksi yang sama dilakukan oleh orang lain. Di dalam pola aksi itu itu sudah terjalin unsur, yaitu agen,aksi, dan penderita.
Ketiga, setelah tahap kedua di atas muncullah fungsi-fungsi tata bahasa yang pertama, yaitu subjek-predikat dan objek-aksi, yang menghasilkan struktur :
Subjek – Verbal – Objek
Atau
Agen + Aksi + Penderita
Bisa dilihat dari penjelasan di atas bahwa hipotesis kesemestaan kognitif dalam psikologi sama atau sejalan dengan hipotesis nurani mekanisme dalam linguistik. Dewasa ini, seperti juga dalam linguistik, dalam kognitifisme  perhatian juga lebih ditujukan pada masalah makna (sematik) serta peranannya dalam pemerolehan bahasa. Piaget maupun Mc. Namara sama-sama berpendapat bahwa kanak-kanak lebih dahulu mengembangkan proses-proses kognitif yang bukan linguistik. Setelah itu barulah mereka memperoleh lambang-lambang linguistik. Jadi, pemerolehan bahasa tergantung pada pemerolehan proses-proses kognitif itu.
Menurut teori ini, bahasa bukanlah suatu ciri alamiah yang terpisah, melainkan salah satu di antara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Bahasa distrukturi oleh nalar. Perkembangan bahasa harus berlandaskan pada perubahan yang lebih mendasar dan lebih umum di dalam kognisi. Jadi, urutan-urutan perkembangan kognitif menentukan urutan perkembangan bahasa (Chaer, 2003:223). Hal ini tentu saja berbeda dengan pendapat Chomsky yang menyatakan bahwa mekanisme umum dari perkembangan kognitif tidak dapat menjelaskan struktur bahasa yang kompleks, abstrak, dan khas. Begitu juga dengan lingkungan berbahasa. Bahasa harus diperoleh secara alamiah.
Menurut teori kognitivisme, yang paling utama harus dicapai adalah perkembangan kognitif, barulah pengetahuan dapat keluar dalam bentuk keterampilan berbahasa. Dari lahir sampai 18 bulan, bahasa dianggap belum ada. Anak hanya memahami dunia melalui indranya. Anak hanya mengenal benda yang dilihat secara langsung. Pada akhir usia satu tahun, anak sudah dapat mengerti bahwa benda memiliki sifat permanen sehingga anak mulai menggunakan simbol untuk mempresentasikan benda yang tidak hadir dihadapannya. Simbol ini kemudian berkembang menjadi kata-kata awal yang diucapkan anak.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pemerolehan bahasa terjadi sejak kanak-kanak yang terus berkembang berdasarkan perkembangan usia juga dipengaruhi oleh lingkungan atau faktor sosial di sekitarnya. Hal ini terlihat dari hipotesis yang ada bahwa pemerolehan bahasa merupakan naluri yang ada sejak lahir dan akan berkembang sejalan dengan pertambahan usia.

3.2 Saran
Pemerolehan bahasa ini akan mempengaruhi perkembangan berbahasa seseorang sehingga ketika masa kanak-kanak diharapkan ibu sebagai sumber pemerolehan bahasa dapat memberikan pengalaman yang berharga pada kanak-kanak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar